Headlines News :

Iklan Semua Halaman

Home » » Jakarta setengah lumpuh,Ribuan angkutan umum mogok

Jakarta setengah lumpuh,Ribuan angkutan umum mogok

Written By BIN on Wednesday, 23 March 2016 | Wednesday, March 23, 2016

Di beberapa lokasi, sopir taksi mencegat taksi yang tak ikut mogok, atau mobil yang diduga taksi berbasis aplikasi online

Melanjutkan aksi pekan lalu, ribuan pengemudi angkutan umum Jakarta: taksi, bis kota, bajaj, melancarkan pemogokan -ditandai pencegatan terhadap mobil yang dicurigai taksi online.
Mereka memprotes beroperasinya taksi-taksi berbasi aplikasi, yang dinilai menyaingi profesi mereka secara tidak adil.
Para pengemudi memusatkan unjuk rasa di tiga titik: Kompleks DPR RI, Balai Kota Jakarta, dan Kompleks Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).
Sebagian iring-iringan, sebagaimana yang melintas di Bundaran Hotel Indonesia, dipimpin oleh kendaraan terbuka yang mengangkut sistem tata suara, dengan orasi para pengemudi di atasnya. Di belakananya beriringan bajaj biru dan taksi dari berbagai perusahaan.


Taksi berbagai perusahaan yang biasanya brsaing, kini brsatu menghadapi pesaing brsama
Solahuddin seorang pengemudi taksi yang ditemui di kawasan Proklamasi mengatakan, "Saya ikut mogok minta taksi aplikasi online ditutup saja, karena mereka menghancurkan kami. Kami membayar pajak sebagai kendaraan umum, mereka tidak, karena mobil pribadi," katanya.
"Jadi ini perjuangan untuk hidup kami," tandasnya pula.

Namun di beberapa ruas, sesudah memarkir taksi mereka, sejumlah pengemudinya, dengan seragam perusahaan taksi mereka melakukan razia, baik terhadap kendaraan yang dicurigai merupakan taksi berbasis online, juga terhadap taksi resmi yang dituding tidak mau ikut aksi pemogokan itu.
Written by: Bobby Scrable
BIN ONLINE, Updated at: Wednesday, March 23, 2016
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Contact Us | About Us | Dislaimer | Privacy Policy | Pedoman Siber | SiteMap
Copyright © 2014. BIN ONLINE - All Rights Reserved
Created by Navin
Proudly powered by Berita Independent Nasional